Wednesday, 25 July 2012

25 Des Bukan Natal

Hari Natal Bukan Tanggal 
25 Desember

Photo: Google Search
Kabar Indonesia - Banyak orang menduga, bahwa hari lahir Yesus ini diambil dari kebiasaan orang kafir penyembah dewa matahari, karena tanggal 25 Desember itu adalah hari lahirnya dewa matahari. Maka dari itulah ada beberapa aliran Kristen yang "pantang" bahkan menganggap haram untuk merayakan tradisi Natal, sebagai contoh aliran Advent dan Yehova.
Tanggal kelahiran Tuhan Yesus tidak tercantum di Alkitab, bahkan baru 300 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 25 Desember itu ditentukan secara resmi sebagai hari lahir Tuhan Yesus oleh Paus Julius I (Bishop Roma 337-352).

Jadi orang-orang Kristen sebelumnya tidak pernah merayakan hari Natal seperti orang Kristen zaman sekarang! Kata Natal itu sendiri diserap dari bahasa Portugis yang berarti kelahiran.

Menurut perhitungan kalender yang digunakan oleh kita pada saat ini, Tuhan Yesus dilahirkan di Bethlehem pada 2006 tahun yang lampau. Tahun kalender kita ini diciptakan pada abad keenam oleh seorang Biarawan yang bernama Dionysius Exignus. Tahun Masehi yang kita gunakan sekarang ini disebut juga "Anno Domini" = Tahunnya dari Tuhan.

Bagaimana ia bisa mengetahui bahwa Tuhan Yesus dilahirkan pada tahun 1 SM? Ia mengambil data dari catatan sejarah yang menyatakan bahwa pada tahun 754 kalender Rumawi itu adalah tahun ke-15 dari pemerintahan Kaisar Tiberius seperti yang tercantum di Lukas 3:1-2. Data inilah yang dijadikan patokan olehnya untuk mengawali tahun 1 SM.

Selain itu ia juga mengambil data dari Lukas 2:1-2 yang menyatakan bahwa Kirenius (Gubenur dari Siria) pertama kali menjalankan program sensus.

Walaupun demikian masih juga orang yang meragukannya, sebab menurut sejarahwan Yahudi yang bernama Flavius Josephus, raja Herodes meninggal dunia pada tahun empat sebelum Masehi yang menyebabkan tanggal lahirnya Tuhan Yesus harus dimundurkan sebanyak empat tahun.  Ini pun tidak benar sebab ia menganalisa tahun tersebut berdasaran adanya gerhana bulan pada tahun saat Herodes meninggal dunia yang terjadi di Yerusalem pada tanggal 13 Maret tahun keempat sebelum Masehi, tetapi para ilmuwan sekarang telah membuktikan bahwa gerhana bulan tersebut terjadi bukan pada tanggal tersebut di atas, melainkan pada tanggal 9 Januari tahun 1 SM.

Tetapi yang sudah bisa dipastikan tanggal 25 Desember itu bukanlah tanggal hari kelahiran Tuhan Yesus. Pendapat ini diperkuat berdasarkan kenyataan bahwa pada malam tersebut para gembala masih menjaga dombanya di padang rumput. (Lukas 2:8)

Pada bulan Desember tidak mungkin para gembala masih bisa menjaga domba-dombanya di padang rumput sebab musim dingin pada saat tersebut telah tiba, jadi sudah tidak ada rumput yang tumbuh lagi.

Selain itu tidak mungkin pula Kaisar menyuruh penduduknya untuk jalan begitu jauh (karena dulu belum ada mobil) untuk menjalankan program sensus di musim dingin yang sudah banyak turun salju.

Pada sekitar tahun 320, Kaisar Kristen Rumawi Konstantin memerintahkan gereja untuk mengambil tanggal 25 Desember sebagai hari lahir Tuhan Yesus, sebab pada tanggal tersebut adalah hari raya kaum kafir para penyembah Dewa Matahari yang dinamakan Saturnalia.

Walaupun demikian, menurut pendapat saya bukanlah satu hal yang penting bagi kita untuk mengetahui kapan tepatnya Tuhan Yesus dilahirkan karena yang paling penting dari segala-galanya ialah Tuhan Yesus - Mesias kita telah dilahirkan di dunia ini dan sudah disalib untuk menebus dosa umat manusia.

Selain itu bukannya hari dan tanggal kedatangannya yang pertama yang penting bagi kita, melainkan hari kedatangannya yang kedua - adalah jauh lebih penting - apalagi waktunya sudah dekat.  Apakah kita sudah siap untuk menyongsong kedatangan-Nya yang kedua kali? (*)

Sumber:


Blog:
http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

No comments:

Post a Comment

Silahkan anda komentar, namun secara santun & dengan tidak melakukan komentar spam, terima kasih.