Thursday, 4 August 2011

Masjid Tertua di Yogja


Inilah Masjid Tertua di Yogyakarta

Masjid ini dibangun untuk meneguhkan identitas ke-Islaman Kerajaan Ngayogyakarto.


Masjid Gede Kauman, Yogyakarta (VIVAnews/Erick Tanjung)
VIVAnews – Dibangun untuk menegaskan identitas ke-Islaman Kerajaan Ngayogyakarto Hadiningrat, Masjid Gede Kauman adalah masjid tertua di Yogya.

Masjid ini dibangun pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I, tepatnya pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 Masehi atau 6 Rabiul Akhir 1187 Hijriah. Masjid ini berstatus Masjid Raya Provinsi DIY, dan merupakan salah satu benda cagar budaya di Yogyakarta.

Masjid itu didirikan sebagai sarana beribadah bagi keluarga raja dan rakyatnya, serta untuk menegaskan identitas kerajaan Islam.

“Pembangunan masjid ini diprakarsai langsung oleh Sri Sultan HB I dan Kyai Fakih Ibrahim Diponingrat selaku penghulu Kraton yang pertama. Sementara arsitek masjid dirancang oleh Kyai Wiryokusumo,” kata HM Julianto Supardi, dalam perbincangan dengan VIVAnews di halaman Mesjid Gede Kauman, di kompleks Kraton Yogyakarta, Selasa 2 Juli 2011.

Julianto menjelaskan, seperti Masjid Jawa pada umumnya, atap Masjid Gede Kauman bersusun tiga dalam bentuk tradisional Jawa bernama Tajuk Lambang Teplok, dengan mustaka berbentuk daun kluwih (sukun) dan gadha yang ditopang oleh tiang-tiang terbuat dari Kayu Jati Jawa yang usianya mencapai ratusan tahun. Dinding Masjid tebuat dari batu putih, sedangkan lantainya terbuat dari batu kali hitam.

“Makna bentuk itu adalah tiga tahapan kesempurnaan – hakikat, syariat, dan marifat yang artinya kesempurnaan,” tutur Julianto. Selain itu, jelasnya, Masjid Gede Kauman memiliki serambi yang berfungsi sebagai 'Almahkamah Al Kabiroh' atau tempat pertemuan para alim ulama, tempat pengajian dan akwah Islamiyah, pengadilan agama, pernikahan, perceraian, pemberian waris, peringatan hari-hari besar Islam, dan lain-lain.

Di halaman luar atau pelataran masjid di sisi utara dan selatan, berdiri bangunan yang disebut pagongan (tempat gamelan). “Setiap bulan maulid tiba, gamelan itu dimainkan untuk menarik minat masyarakat Jawa yang gemar musik tradisonal itu. Gamelan itu diselingi dakwah oleh para ulama,” papar Julianto.

“Di masa lalu, masyarakat berbondong-bondong memeluk agama Islam degan mengucapkan dua kalimat syahadat atau Syahadattin, sehingga kemudian lahirlah istilah Sekatenan yang setiap tahunnya diperingati oleh masyarakat Yogya,” kisah Julianto. (Laporan: Erick Tanjung | Yogyakarta, Umi)

Sumber : VIVAnews

No comments:

Post a Comment

Silahkan anda komentar, namun secara santun & dengan tidak melakukan komentar spam, terima kasih.