Tuesday, 7 June 2011

Sungai Jodoh

Legenda Sungai Jodoh 
Pulau Batam

Pada suatu masa dipedalaman Pulau Batam, ada sebuah desa yang dihuni oleh seorang gadis yatim piatu bernama Mah Bongsu. Ia menjadi pembantu rumah tangga dari seorang majikan bernama Mak Piah. Mak Piah mempunyai seorang putri bernama Siti Mayang.

Pada suatu hari, Mah Bongsu mencuci pakaian majikannya di sebuah sungai. “Ular …! Teriak Mah Bongsu ketakutan ketika melihat seekor ular mendekat. Ternyata ular itu tidak ganas, ia berenang ke sana ke mari sambil menunjukkan luka dipunggungnya. Mah Bongsu memberanikan diri mengambil ular yang kesakitan itu dan membawanya pulang ke rumah.

Mah Bongsu merawat ular tersebut hingga sembuh. Tubuh ular tersebut menjadi sehat dan bertambah besar. Kulit luarnya mengelupas sedikit demi sedikit. Mah Bongsu memungut kulit ular yang mengelupas itu, kemudian dibakarnya. Ajaib … setiap Mah Bongsu membakar kulit ular, timbul asap besar. Jika asap mengarah ke Negeri Singapura, maka tiba-tiba terdapat tumpukan emas, berlian dan uang. Jika asapnya mengarah ke Negeri Jepang, mengalirlah berbagai elektronik buatan Jepang. Dan bila asapnya mengarah ke kota Bandar Lampung, maka datanglah berkodi-kodi kain tapis Lampung. Dalam tempo dua, tiga bulan, Mah Bongsu menjadi kaya raya, jauh melebihi Mak Piah majikannya.

Kekayaan Mah Bongsu membuat orang bertanya-tanya. “Pasti Mah Bongsu memelihara tuyul,” kata Mak Piah. Pak Buntal pun menggarisbawahi penyataan isterinya itu. “Bukan memelihara tuyul ! tetapi ia telah mencuri hartaku !. Banyak orang menjadi penasaran dan berusaha menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu. Untuk menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu ternyata tidak mudah. Beberapa dari orang dusun yang penasaran telah menyelidiki berhari-hari namun tidak dapat menemukan rahasianya.

“Yang penting sekarang ini, kita tidak dirugikan,” kata Mak Ungkai kepada tetangganya. Bahkan Mak Ungkai dan para tetangganya mengucapkan terima kasih kepada Mah Bongsu, sebab Mah Bongsu selalu memberi bantuan mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Selain mereka, Mah Bongsu juga membantu para anak yatim piatu, orang sakit dan orang lain yang memang membutuhkan bantuan. “Mah Bongsu seorang yang dermawati,” sebut mereka. Mak Piah dan Siti Mayang, anak gadisnya merasa tersaingi, hampir setiap malam mereka mengintip ke rumah Mah Bongsu. “Wah, ada ular sebesar betis ?” gumam Mak Piah. “Dari kulitnya yang terkelupas dan dibakar bisa mendatangkan harta karun ?” gumamnya lagi. “Hmm, kalau begitu aku juga akan mencari ular sebesar itu,” ujar Mak Piah.

Mak Piah pun berjalan ke hutan mencari seekor ular. Tak lama, ia pun mendapatkan seekor ular berbisa. “Dari ular berbisa ini pasti akan mendatangkan harta karun lebih banyak dari pada yang didapat oleh Mah Bongsu, ”pikir Mak Piah. Ular itupun lalu di bawa pulang.
Malam harinya, ular berbisa itu ditidurkan bersam Siti Mayang. “Saya takut ! ular melilit dan menggigitku ! “teriak Siti Mayang ketakutan. “Anakku, jangan takut. Bertahanlah, ular itu akan mendatangkan harta karun,” ucap Mak Piah.

Sementara itu, luka ular milik Mah Bongsu sudah sembuh. Mah Bongsu semakin menyayangi ularnya. Saat mah Bongsu menghidangkan makanan dan minuman untuk ularnya, ia tiba-tiba terkejut. “Jangan terkejut. Malam ini antarkan aku ke sungai, tempat pertemuan kita dulu, “kata ular yang ternyata pandai berbicara seperti manusia. Mah Bongsu mengantar ular itu ke sungai. Sesampai di sungai, ular mengutarakan isi hatinya. “Mah Bongsu, aku ingin membalas budi yang setimpal dengan yang telah kau berikan padaku,” ungkap ular itu.”Aku ingin melamarmu menjadi isteriku,” lanjutnya. Mah Bongsu semakin terkejut, ia tidak bisa menjawab sepatah katapun. Bahkan ia menjadi bingung. Ular segera menanggalkan kulitnya dan seketika itu juga berubah wujud menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Kulit ular sakti itupun berubah wujud menjadi sebuah gedung yang megah, yang tereletak di halaman depan pondok Mah Bongsu. Selanjutnya tempat itu diberi nama desa “Tiban” asal dari kata ketiban, yang artinya kejatuhan keberuntungan atau mendapat kebahagiaan.

Akhirnya, Mah Bongsu melangsungkan perkawinan dengan pemuda tampan tersebut. Pesta pun dilangsungkan tiga hari tiga malam. Berbagai macam hiburan ditampilkan. Tamu yang datang tiada henti-hentinya memberikan ucapan selamat.

Dibalik kebahagiaan Mah Bongsu, keadaan keluarga Mak Piah yang tamak dan loba sedang dirundung duka, karena Siti Mayang, anak gadisnya meninggal dipatok ular berbisa.
Konon, sungai pertemuan Mah Bongsu dengan ular sakti yang berubah wujud menjadi pemuda tampan itu, dipercaya sebagai tempat jodoh. Sehingga sungai itu disebut Sungai Jodoh”.

Sumber : Dongeng Nusantara

Fahrizal Kamal

No comments:

Post a Comment

Silahkan anda komentar, namun secara santun & dengan tidak melakukan komentar spam, terima kasih.