Friday, 27 May 2011

Legenda Danau Toba


Asal Usul Danau Toba


Pulau Samosir
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang petani bernama menyendiri di sebuah lembah yang landai nan subur disuatu desa di Toba, Sumatera Utara. Petani itu mengerjakan lahan pertaniannya untuk menyambung hidup.

Selain mengerjakan ladangnya, kadang-kadang lelaki itu pergi memancing ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya, setiap kali dia memancing, mudah saja dia mendapatkan  ikan, karena di sungai yang jernih itu memang banyak sekali ikan. Ikan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.

Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang lelaki itu langsung pergi ke sungai untuk memancing, tetapi sudah cukup lama ia memancing tak seekor ikan pun didapatnya. Kejadian yang seperti itu, tidak pernah dialami sebelumnya, sebab biasanya ikan di sungai itu mudah saja dia pancing. Karena sudah terlalu lama tak ada yang memakan umpan pancingnya, dia jadi kesal dan memutuskan untuk berhenti saja memancing,  tetapi ketika dia hendak menarik pancingnya, tiba-tiba pancing itu disambar ikan yang langsung menarik pancing  jauh ketengah sungai. Hatinya yang tadi sudah kesal berubah menjadi gembira, karena dia tahu bahwa ikan yang menyambar pancingnya itu adalah ikan yang besar pikirnya.

Danau Toba, Sumatera Utara
Setelah beberapa lama dia biarkan pancingnya ditarik ke sana kemari, barulah pancing itu disentakkan dan tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar-gelepar di ujung tali pancingnya. Dengan cepat ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas, sambil tersenyum gembira diapun melepas mata pancingnya dia dari mulut ikan. Pada saat dia sedang melepaskan mata pancing itu, ikan tersebut memandangnya dengan penuh arti. Kemudian, setelah ikan itu diletakkannya ke satu tempat dia pun masuk ke dalam sungai untuk mandi. Perasaannya gembira sekali karena belum pernah dia mendapat ikan sebesar itu. Dia tersenyum sambil membayangkan betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau sudah dipanggang, hari sudah mulai senja ketika dia meninggalkan sungai untuk pulang kerumah.

Setibanya di rumah, lelaki itu langsung membawa ikan  hasil pancingannya ke dapur dan  ketika dia hendak menyalakan api untuk memanggang ikan, ternyata kayu bakar di dapur rumahnya sudah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong rumahnya. Kemudian, sambil membawa beberapa potong kayu bakar dia naik kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.

Ketika lelaki itu tiba di dapur, betapa terkejutnya dia, karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi ditempatnya,  yang ada dan dia lihat  terhampar beberapa keping uang emas. Karena terkejut bercampur heran mengalami keadaan yang aneh, akhirnya dia meninggalkan dapur dan masuk ke kamar.


Ketika lelaki itu membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap karena di dalam kamar itu berdiri seorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai. Perempuan itu sedang menyisir rambutnya sambil berdiri menghadap cermin yang tergantung pada dinding kamar, sesaat kemudian perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang lelaki itu yang tegak kebingungan di mulut pintu kamar. Lelaki itu menjadi sangat terpesona melihat wajah perempuan yang berdiri dihadapannya, cantik luar biasa pikirnya. Belum pernah dia melihat wanita secantik itu meskipun dahulu dia sudah jauh mengembara ke berbagai negeri.

Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar Toba menyalakan lampu, setelah lelaki itu menyalakan lampu, dia pun mengajak perempuan itu menemaninya ke dapur untuk memasak  nasi. Sambil menunggu nasi masak, perempuan itupun bercerita  bahwa dia adalah penjelmaan dari ikan besar yang tadi didapat lelaki itu ketika memancing di sungai. Kemudian dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur itu adalah penjelmaan dari sisiknya. Setelah beberapa minggu mereka bersama, perempuan jelmaan ikan itupun  menyatakan bersedia menerima lamarannya dengan syarat lelaki itu harus bersumpah bahwa seumur hidupnya, dia tidak akan pernah mengungkit asal usul istrinya yang jelmaan dari ikan. Setelah lelaki itu bersumpah, lalu mereka  melangsungkan perkawinan.

Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki dan diberi nama Samosir. Anak itu sangat dimanjakan ibunya, sehingga  mengakibatkan bertabiat kurang baik dan pemalas. Setelah cukup besar, anak itu disuruh ibunya mengantar nasi setiap hari untuk ayahnya yang bekerja di ladang. Namun, sering dia menolak mengerjakan tugas itu sehingga terpaksa ibunya yang mengantarkan nasi ke ladang.

Danau Toba Dilihat Dari Sitongging, Sumatera Utara
Suatu hari, anak itu disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya, mulanya dia menolak, akan tetapi, karena terus dipaksa ibunya, akhirnya dia mau juga mengantarkan nasi untuk ayahnya, meskipun dengan kesal   dan pergilah dia. Karena masih merasa kesal, di tengah jalan sebagian besar nasi dan lauk pauk untuk ayaknya, dia makan. Setibanya diladang, sisa nasi yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada ayahnya. Saat menerima, ternyata si ayah sudah merasa sangat lapar karena nasinya terlambat sekali diantarkan. Oleh karena itu, maka si ayah jadi sangat marah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya adalah nasi sisa-sisa. Amarah ayahnya semakin bertambah ketika anaknya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar nasi itu. Kesabaran si ayah jadi hilang dan dia pukul anaknya sambil mengatakan :  “Anak kurang ajar, tidak tahu diuntung, betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan !”.
Sambil menangis, anak itu berlari pulang menemui ibunya di rumah,  kepada ibunya dia mengadukan bahwa dia dipukuli ayahnya dan semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya, di ceritakan kembali kepada ibunya. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya. Akhirnya sang ibu menyuruh anaknya segera pergi mendaki bukit yang  tidak begitu jauh dari rumah mereka dan memanjat pohon kayu tertinggi di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan perintah ibunya, segara dia berlari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.


Ketika tampak oleh sang ibu, anaknya sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit , dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dari rumah mereka dan ketika dia tiba di tepi sungai itu, kilatpun menyambar disertai bunyi guruh yang megelegar. Sesaat kemudian dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang yang bersamaan, sungai itu pun menjadi banjir besar serta turun  hujan yang sangat lebatnya. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu meluap kemana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Pak Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang di kemudian hari dinamakan orang Danau Toba. Sedang Pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.

Sumber : Dikutip dari Buku Cerita Rakyat

No comments:

Post a Comment

Silahkan anda komentar, namun secara santun & dengan tidak melakukan komentar spam, terima kasih.